Setelah sempat tertunda selama beberapa bulan, akhirnya gue dan beberapa teman lainnya bisa juga turlap (turun lapangan) untuk mengumpulkan sampel data seputar kadar debu dan kebisingan. Tertundanya turlap tersebut bukan dikarenakan oleh rasa malas lho, namun lebih dikarenakan cuaca yang tidak mendukung. Hampir sebulan ini, hujan tak henti-hentinya mengguyur Kota Jayapura, akibatnya turlap pun mesti ditunda.

Penundaan itu dilakukan karena alat yang digunakan tidak akan bisa beroperasi secara maksimal jika turun hujan, sebab :

  • Pada pengukuran kadar debu, debu yang dihasilkan tidak akan maksimal karena bisa dipastikan tidak akan debu yang tertangkap oleh alat, sebab debunya akan menempel di badan jalan akibat terkena air hujan.
  • Pada pengukuran kebisingan, hujan bisa menjadi background noise, artinya hujan yang turun bisa menghasilkan suara latar kebisingan sehingga pengukuran menjadi tak maksimal.

Untuk pengukuran kadar debu, diperlukan  waktu minimal 8 jam (08.00-16.00 WIT), sedangkan pada pengukuran kebisingan waktunya lebih lama, minimal 12 jam (06.00-18.00 WIT)! Bisa dibayangkan kan jenuhnya seperti apa menunggu selama itu? Sudah di pinggir jalan, panas lagi! 😀

Eksis Dimanapun dan Kapanpun
Masih pagi udah foto-foto! 😛

Pengukuran tersebut tidak hanya sehari, namun 3 hari! Hal itu dikarenakan pengukuran yang dilakukan tidak hanya pada satu titik saja, namun pada 2 titik. Titik pertama ada di depan Saga Mall Abepura, sementara titik satunya lagi ada di depan Hotel Yasmin Jayapura. Awalnya, gue dan temen-temen gue berencana melakukan pengukuran di depan Saga Mall secara sekaligus, artinya pengukuran kadar debu dan kebisingan dilakukan secara bersamaan. Tapi apa daya, pada saat itu alat yang akan digunakan untuk mengukur kadar debu sedang “tak enak badan” alias bermasalah. Jadi ya terpaksa, mesti satu per satu. Capeeeee deh! 😀

Alat Ukur Kebisingan
Noise Logging Dosimeter – Alat Ukur Kebisingan

Alat Ukur Kadar Debu
Graseby GMW – Alat Ukur Kadar Debu

Sampling Debu
Sampel Debu – Lihat Bedanya! 😀

Karena jenuh menunggu selama itu, akhirnya gue dan teman-teman lainnya berinisiatif untuk main DOMINO alias GAPLE! Cowok maupun cewek semua ikut ambil bagian, gak ada perbedaan gender dalam hal ini. 😆 Parahnya, kita gaplekannya di pinggir jalan raya, jadi bisa dipastikan banyak orang yang melihatnya. Tapi bodoh amir deh, asal hati happy  itu gak jadi soal. Eksis dimanapun cuy! :mrgreen:

Gaple'an nyoook!
Main Gaple Nyooook! :mrgreen:

Saat siang tiba, perut pada keroncongan minta diberi makan. Karena males bolak-balik rumah – lokasi syuting pengukuran, akhirnya gue dan teman-teman pun memilih untuk membeli makanan yang ada disekitar lokasi tersebut, seperti Bakso, Batagor, Hot Dog, dan Rujak. Lumayan lah buat mengganjal perut 😀

Sambil menunggu sampai bengkok selama 8 hingga 12 jam, gue dan temen-teman lainnya menyempatkan waktu untuk melakukan wawancara kepada pedagang maupun tukang ojek yang setiap harinya melakukan aktivitas di sekitar lokalisasi lokasi tersebut. Yang kita tanyakan mulai dari dampak yang ia rasakan selama berjualan atau beraktivitas di area tersebut hingga saran yang diberikan kepada Pemerintah setempat. Dari jawaban yang mereka berikan, ada yang jawabannya bagus, namun ada juga yang jawabannya gak nyambung! Yang ditanya apa, eh..jawabnya apa, wkwkwk…. 😆

Wawancara Pedagang Setempat
Sesi Wawancara Kepada Pedagang Setempat

Btw, besok gue mau nonton Persipura Jayapura vs Chonburi FC di Stadion Mandala. Awalnya sempat khawatir lantaran jadwal pertandingannya bentrok dengan UTS Ekotoksikologi Lingkungan. Namun sore tadi hati gue senang tak terkira. Pasalnya, setelah membujuk sang dosen, akhirnya UTS-nya ditunda minggu depan, hahahaha… 😀 Lagian sayang banget kan kalo gue gak jadi nonton, soalnya udah terlanjur beli tiketnya, hihihiih… 😀 Ah..dosen yang satu ini emang baik bener, mengerti keinginan mahasiswa/i-nya :P. Ternyata gak semua dosen aneh dan killer ya 😆