Mungkin bagi sebagian orang menjadi anak bungsu itu pasti menyenangkan. Ia selalu menjadi pusat perhatian dari kedua orang tuanya bahkan kakak-kakaknya. Tetapi banyak pula yang berpendapat bahwa anak bungsu cenderung memiliki sifat kekanak-kanakan alias manja. Gue sendiri tidak bisa menyalahkan pendapat tersebut, karena memang sebagian besar benar adanya. Tapi disini, gue akan coba membuktikan bahwa menjadi anak bungsu itu tidak selamanya menyenangkan! 😀

Zip, sifat anak bungsu itu seperti apa sih?

Tidak bisa dipungkiri, anak bungsu cenderung memiliki sifat kekanak-kanakan. Apabila Ia (anak bungsu, red) tidak mendapatkan apa yang Ia inginkan atau apa yang Ia dapatkan tidak sesuai dengan apa yang Ia harapkan, maka ia cenderung akan bereaksi secara emosional, misalnya mengurung diri di dalam kamar, mogok makan, menangis secara berlebihan, bahkan tidak mau berinteraksi dengan orang lain alias tutup mulut (ups..ini semuanya gue banget :lol:).

Teruuuus Zip, apa sih enaknya  jadi anak bungsu?

Menjadi anak bungsu itu banyak enaknya. Kira-kira ya seperti ini :

1. Si bungsu cenderung mendapatkan perhatian berlebih dari kedua orang tuanya bila dibandingkan dengan saudaranya yang lain (kakak-kakaknya). Apapun yang Ia inginkan, tak jarang akan selalu dituruti.
Contoh :

  • “Dedek kok gak mau makan sih? Dedek emang mau makan apa? Nanti mami beliin deh” (Buseeeeet…ini maminya buaaik bener!) 😀

2. Si bungsu selalu mendapatkan pembelaan dari orang tua maupun kakaknya walaupun apa yang Ia lakukan terkadang  tak selamanya benar.
Contoh :

  • Pembelaan dari si ortu :
    “Ya..ampun, sama adeknya ya mbok mengalah toh, masa kakaknya kayak gitu sih…”
    ; atau
    “Anak kamu tuh yang nakal, udah jelas-jelas anak saya kelakuannya baik gini!”
    (Emak-emak esmosian) :lol:. 

  • Pembelaan dari si kakak :
    “Astaga! Siapa yang berani berbuat itu, dek? Siapa yang berani nonjok kamu? Bilangin ke abang, biar abang kasih pelajaran buat dia!”
    (Sinetron banget ya…) 😀

3. Apabila semua kakaknya telah memiliki pekerjaan tetap, maka bisa dipastikan hidup si bungsu akan makmur. Setiap bulannya ia akan mendapatkan “setoran wajib” dari semua kakaknya yang telah bekerja tersebut. Hitungan matematisnya seperti ini :

Si bungsu memiliki 12 kakak (bisa jadi keseblasan tim sepak bola :D) dan setiap bulannya masing-masing memberikan uang sebesar 100rb. Maka, bisa dipastikan setiap bulan si bungsu bisa mengumpulkan uang sebesar 1,2jt dari seluruh kakak-kakaknya. Nah, itu baru dari si kakak, belum dari orang tuanya! Kebayang kan berapa jumlah uang yang akan diterima si bungsu setiap bulannya? Wiiiiih…bisa kaya mendadak tuh (Si bungsu yang matre) :lol:.

Wih..kalo gitu enak banget ya Zip jadi anak bungsu!

Eitzz…sabar dulu! Selain menjadi anak bungsu itu menyenangkan, ada nggak enaknya juga loh.
1. Menjadi anak bungsu terkadang suka dibanding-bandingkan dengan si kakak.
Contoh :

  • “Mbok ya contohin tuh kakak kamu, kalo disuruh ini-itu gak suka membantah”; atau
  • “Waduw..nilai kamu kok jelek banget sih, gak kayak kakak kamu”.

(Ssssst…buat anak bungsu yang pernah diperlakukan seperti itu, jangan bersedih hati ya. Kamu tidak sendirian kok. Trust me!) 😆

2. Jika mulai beranjak besar, si bungsu tak lepas diperlakukan sebagai pesuruh (aih..kejam amat bahasanya :D). Ia sangat rentan disuruh ini-itu oleh kakak-kakaknya. Ya..dimana-mana senioritas tetap aja berlaku :D.
Contoh:

  • “Dek, lo ambilin kakak obeng dong. Kalau udah, sekalian tolong ke dapur buatin kakak Es Teh ya!”; atau
  • “Udah mam, suruh si bungsu aja, gue lagi sibuk banget ni!” :mrgreen:.

Dan, biasanya kalau si bungsu tidak mau menuruti perintah dari si kakak, maka reaksinya akan seperti ini:

  • Bungsu : “Apaan sih suruh-suruh gue terus, gak ada orang lain apa?”
  • Kakak : “Ya..udah kalo gak mau disuruh, bulan depan kakak gak bakal kasih kamu duit lagi!”
  • Bungsu : “$#%$^%*!” (luluh juga hatinya) 😆

3. Si bungsu adalah generasi penerus! Hampir semua aset “berharga” dari si kakak akan dilungsurkan kepadanya, contohnya saja pakaian dan sepatu yang masih layak pakai. Jadi, jangan heran kalau si bungsu sangat jarang membeli pakaian, sepatu, maupun barang lainnya yang masih bisa dilungsurkan dari si kakak. Ya..hitung-hitung penghematan lah :lol:.

Kira-kira seperti itu suka duka menjadi seorang anak bungsu. Nah, buat para bungsuers (sebutan bagi para bungsu :lol:), kira-kira kalian merasakan hal yang sama tidak? 😛