Apa yang terbersit di pikiran kamu ketika mendengar kata ODHA? Sesuatu yang menyeramkan, menjijikan, atau bahkan sesuatu hal yang tabu untuk dibicarakan? Hampir kebanyakan masyarakat Indonesia enggan atau takut untuk berinteraksi dengan para ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Alasannya simpel, mereka takut akan tertular HIV/AIDS! Gue sendiri tidak bisa menyalahkan hal tersebut, sebab paradigma seperti itu memang sudah melekat erat di masyarakat kita.

Mindset atau pola pikir seperti itu perlu kita ubah. Bagaimanapun juga ODHA bagian dari kita, ia memiliki hak yang sama seperti manusia pada umumnya, bukan untuk dikucilkan! Banyak orang beranggapan bahwa berteman dengan ODHA sangatlah berbahaya, dimana kita rentan tertular oleh HIV/AIDS. Padahal, hal tersebut sangatlah tidak benar. Selama kita berteman dengan para ODHA dalam batasan yang wajar, maka penularan HIV/AIDS tidak akan pernah terjadi. Jutru ketika kita berteman dan berinteraksi dengan ODHA, maka kita bisa membuka ruang komunikasi yang baik dengan mereka.

STOP HIV/AIDS

Sangat menyedihkan ketika melihat ODHA diasingkan dari keluarga, teman, atau bahkan warga di lingkungan tempat tinggalnya. Ia menjadi momok yang menakutkan, seakan membawa sebuah penyakit kutukan. Hey, open your eyes! Bagaimanapun juga, ODHA membutuhkan dukungan moril dari keluarga, sahabat dan orang-orang yang dikasihinya. Ia membutuhkan orang yang care, yang mampu memotivasinya untuk bangkit dari segala keterpurukan, bukan untuk dilecehkan dan dijauhkan!

Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat terhadap para penderita HIV/AIDS ini, gue pun menyempatkan waktu untuk bertemu dengan salah seorang ODHA, yakni mas Lukas. Selain positif HIV/AIDS, beliau juga seorang  pendiri komunitas Forum Orang Muda di Kota Jayapura yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Forum tersebut didirikan sebagai wadah / ruang informasi dan berbagi antar para ODHA maupun non-ODHA yang peduli terhadap HIV/AIDS. Sasaran dari forum tersebut lebih mengarah ke anak muda, yakni mereka yang memang sangat rentan terinfeksi oleh virus mematikan ini. Gue pun banyak melakukan sesi tanya-jawab dengan beliau. Banyak informasi berguna yang gue dapatkan seputar ODHA dan HIV/AIDS ini.

ODHA
Gue dan mas Lukas, salah seorang ODHA

Menurutnya, seorang penderita HIV/AIDS harus bisa menjauhkan stigma negatif dan diskriminasi terhadap dirinya sendiri. Ia harus bisa membuka diri, karena dengan begitu orang-orang disekitarnya akan “welcome” terhadapnya. Bagaimanapun juga, jalan hidup seorang ODHA masih panjang. Bunuh diri, mengurung diri dan penyesalan yang terus-menerus bukanlah suatu jalan keluar yang bijak. You must know that HIV/AIDS is not the end of everything. Jangan pernah memperdulikan tanggapan orang selagi itu tidak membangun, karena dari 1 orang yang membenci, masih ada 1000 orang yang menyayangi.

Today Quotes

Ia juga menambahkan, seorang ODHA yang berani “open status” telah mampu untuk bangkit dan turut serta dalam memerangi HIV/AIDS. HIV/AIDS bukan suatu penyakit yang harus ditangisi tiada henti, tetapi suatu penyakit yang harus dilawan! Go fight! Karena dengan seperti itu, kematian terhadap penderita HIV/AIDS dapat ditekan melalui pengobatan sedini mungkin.

STOP Discrimination

Mas Lukas juga menyesalkan  minimnya informasi di masyarakat yang akhirnya membuat orang menjadi salah kaprah. Banyak yang beranggapan bahwa ODHA adalah orang yang sekarat, sudah mau mati, dan bertubuh kurus. Ditambah lagi, adanya informasi yang simpang-siur mengenai cara penularan HIV/AIDS tentunya semakin membuat ketakutan di masyarakat. Untuk itu, stigma tersebut harus diubah sehingga diskriminasi terhadap ODHA dapat dihilangkan. Dalam memerangi HIV/AIDS, yang perlu dijauhi adalah penyakitnya, bukan orangnya (ODHA)! STOP HIV/AIDS, NO DISCRIMINATION and TAKE ACTION!