Ada yang terlewatkan, ada yang terlupakan. Itulah manusia, suka lupa dengan apa yang seharusnya ia lakukan jika sudah sibuk dengan dunianya sendiri. To do list yang sudah ia susun sedemikian rupa terkadang diabaikannya begitu saja bagaikan secarik kertas usang yang sudah tak berguna lagi. Begitu pula yang terjadi pada diri gue beberapa waktu belakangan ini. Ada beberapa momen yang seharusnya gue share disini, tapi apa daya malah terlupakan begitu saja. Mungkin kata yang paling tepat untuk menggambarkan itu semua adalah malas. Yup, sebuah kata yang terdiri dari beberapa susunan huruf yakni m-a-l-a-s! 😀

Jadi ceritanya gini, bulan Mei lalu tepatnya tanggal 24 Mei 2013 gue sempat ketemuan dengan mas Enda, mba Dita dan juga mba Dewi saat ketiganya berkunjung ke Jayapura untuk ngerjain suatu project. Nah, berawal dari SMS dan Email singkat dengan mba Dewi, akhirnya kita pun sepakat untuk ketemuan di Rumah Makan Nusantara. Oh ya, selain gue disana juga ada Imanuel, Julian, dan beberapa teman dari komunitas Buku Untuk Papua (BUP) Jayapura. Sesampainya disana, obrolan asik pun segera mengalir begitu saja sembari menikmati hidangan Mujair Bakar. Ah, nikmatnya! 😛

Pertemuan gue dengan Bang Enda, mba Dita dan mba Dewi nggak hanya sampai disitu aja. Keesokan harinya, pertemuan kami pun berlanjut di aula Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih, yakni saat diadakan workshop dengan adik-adik mahasiswa. Ah, lumayan bisa dapat pengetahuan gratis dari Bang Enda yang saat itu menjadi pemateri di workshop tersebut. Belum lagi melihat keseruan para peserta yang sangat antusias dan interaktif ketika workshop berlangsung. Nggak nyesel deh! 😀

Workshop Kampanye Toleransi Melalui Social Media
Workshop Tolerance Campaign via Social Media

Oh ya, tepat di minggu pagi sebelum bang Enda, mba Dita dan mba Dewi balik ke Jakarta, gue menyempatkan diri untuk menemani ketiganya ke Tugu Jendral Mac Arthur yang berada di Sentani, Kabupaten Jayapura. Tapi apa daya, sesampainya disana pintu pagar yang membentengi areal tugu masih terkunci rapat. Tapi syukur masih bisa diakalin. Gue, bang Enda, mba Dita, mba Dewi dan juga abang driver, akhirnya beradu nyali menyusuri ilalang dan tumpukan sampah untuk bisa masuk ke areal tugu melalui “pintu belakang”. Sempat terdengar celetukan dari mbak Dewi, “Nanti keluarnya lompat pagar aja ya, soalnya capek kalo mesti lewat sini lagi” :lol:.

Tugu Mac Arthur, Sentani
Ini backgroundnya Danau Sentani lho, keren kan? 😛

Makasih ya bang Enda, mba Dita dan mba Dewi yang sudah mau ngajak ketemuan dan ngobrol bareng. Ah, mudah-mudahan next time kita bisa kumpul-kumpul lagi ya :). Jangan pernah kapok-kapok ke Jayapura, hehehe… 😀 Oh ya, makasih juga buat bang Jensen yang udah kenalin gue dengan orang-orang asik, seperti mereka (bang Enda, mba Dita dan mba Dewi). Makasih e pace! 😀

Btw, tanggal 23 Juni kemarin gue menyempatkan diri ke Festival Danau Sentani 2013 “Bertahan Dalam Goncangan Badai”. Ini adalah tahun ke-6 diadakannya festival tahunan yang diselenggarakan di Kalkhote, Kab. Jayapura, Papua. Kalo menurut gue, festival kali ini masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni masih belum terlepas dari kesan monoton. Belum ada perubahan berarti yang ditonjolkan dari pihak penyelenggara. Bahkan di acara penutupannya pun terbilang biasa-biasa saja, nothing special. Entah menurut orang lain seperti apa, tapi inilah menurut kacamata pribadi gue. Kalau boleh jujur, satu hal yang menjadi daya tarik gue untuk datang ke festival itu hanyalah paket wisata berkeliling Danau Sentani dengan menggunakan perahu ataupun kapal motor. Selebihnya, buat gue itu hanya sebatas bonus semata :D. Tapi apapun itu, gue tetap mengapresiasinya dengan baik, terlepas dari masih banyaknya kekurangan disana-sini.

Berikut beberapa foto yang sempat gue abadikan dari Festival Danau Sentani 2013. Sssst, jangan berharap lebih ya karena gue tidak menggunakan kamera DSLR 😀

Pesta Budara Rakyat Festival Danau Sentani 2013